Thursday 26 January 2012

Menjadi Juru Tinta dan Dicium Bandot (Brebes)

Lanjutan ....

Beberapa kisah juga berhasil tertulis dibuku hidup saya ketika berada di Brebes untuk pertama kalinya. Yang sampai sekarang masih inget komentar keluarga Brebes pertama lihat saya, "ya amppun, ini rasbun? (nada sangat tidak percaya) kok bisa besar? padahal dulu ampun..." Mungkin kita semua sering yah mendapat pertanyaan seperti itu, tapi khusus buat saya (juga yang ngomong) itu bukan sekedar kalimat pembuka, karena emang dulunya saya sangat kecil, bahkan sempat terinjak-injak ketika kelas satu SD di Cirebon :(

Tetapi mengenang kisah-kisah yang indah dan lucu adalah lebih baik agar kita terus merasa dekat dengan orang-orang yang ada didalamnya :)

Pada punya pulpen nggak? tau bagian inti pulpen kan? pipa yang buat tempat tintanya? tau jaraknya berapa? sampe sekarang saya belum pernah ngukur berapa diameter lubang tintanya. Tapi dulu waktu kecil, yang  muncul diotak saya adalah, "ini orang gimana masukin tintanya yah, kecil banget lubangnya", pertanyaan ini muncul pas saya tinggal di Brebes dan muncul karena sepupu saya suka membawa pulpen untuk sekolah, dan selalu saya pinjam untuk saya bongkar sampai yang punya marah. keingintahuan ini dibantu pula dengan adanya tanaman tinta disamping rumah, saya tahu itu tanaman tinda dari sepupu saya, nggak tau bener nggaknya. Sampe sekarang saya belum tahu itu beneran pohon tinta atau bukan. Tapi bedanya sekarang tanaman itu sudah habis menghilang tercabut bersama tiupan angin. Nah, karena nggak dikasih uang untuk beli pulpen, akhirnya saya keliling jalan buat nyari pulpen yang dibuang. Ketika saya temukan, saya langsung lari dan dibawa pulang dan menyusup kedalam kamar. Setelah itu saya ambil buah tanaman tinta itu banyak banyak... Dan percoban besarpun dimulai, saya ambil satu buah dan saya pencet sampai hancur tepat diatas lubang pulpen. Ternyata gagal, tidak masuk ke pipa tintanya. Akhirnya saya keluarkan pipa tintanya dan percobaan saya lanjutkan, buah tinta saya pencet dan saya teteskan ke pipa. Percobaan terus saya lanjutkan sampai tangan belepotan warna hitam biru, dan hasilnya nya TIDAK ADA YANG MASUK ... dan kesimpulan saya adalah, sepupu saya pembohong. hahah.... deh... hadeh ...

Kegemaran kakek saya (dari Ibu) adalah ngerokok, tapi yang dirokok adalah roko klinting. Rokok klinting
adalah rokok tradisional yang sebelum dikonsumsi diracik sendiri oleh sipengguna, yang bahannya dari kulit jagung dan bakau. Bakau yang dipakai biasanya terlihat setengah kering berwarna kecoklatan dan kulit jagung sudah dibentuk kotak kering. Nah, suatu hari dirumah lagi panen jagung, kita kupasinlah itu jagung dan misahin antara jagung dengan rambutnya. Nah, pas lagi enak-enaknya ngupas tiba-tiba saya nyeletuk, "kek, ini kaya yang buat rokok itu yah?" kata kakek saya "iya .... bla .. bla ... (nggak dengerin lanjutannya)" dengan sok mandiri dan membantu saya kumpulkan rambut jagung dan saya berikan kepada kakek saya, kata saya "ini buat rokok kakek, daripada beli mulu.." hahaaa.... pecahlah tawa satu ruangan gara-gara saya. Nah bagian isengnya adalah, saya suka ambil kulit rokoknya dan saya cium. Aromanya enak, dan pas saya coba cicip rasanya manis. Tapi tetep nggak saya lanjutkan penasaran yang ini.

hm.. apa yah cerita lucu tentang saya di Brebes? masih lupa.
Tapi yang ada satu hal yang saya ingat mengenai KEGENGSIAN saya, kegengsian saya adalah terletak pada bahasa. Dulu bahasa yang saya kenal adalah bahasa cirebon dan brebes. Nah, ketika saya di Brebes otomatis saya harus menggunakan dialek dan logat orang sana. Tapi namanya juga saya, saya tidak mengadaptasi logat Brebes. Alasannya adalah karena saya tidak suka (orang dicirebon juga suka menjadikan bahasa Brebes sebagai candaan *inilah dampak rasisme ketika dimasukkan dalam kategori candaan. Dan dampaknya saya kena ceramah kakek, yang menyuruh saya pulang ke Cirebon kalau tidak mau menggunakan logat Brebes, hal ini karena membuat saya tidak menyatu dengan budaya mereka. Tapi Alhamdulillah, lama-lama ya otomatis dipake juga walau dibawah tekanan. Tapi anehnya, rasa sungkan itu masih ada, sampai sekarang kalau main ke Brebes, selalu ada orang bilang "anak siapa? kok kaya orang jawa barat?" Karena lidah saya selalu kaku. maaf yah, mungkin karena saya sendiri besar dilingkungan jawa barat :( Lucu juga sih kalau ngebayangin ini, hahaaa.... Semuanya adalah imbas karena tidak ingin dicap sebagai orang Brebes.

Aha... hobi, ya hobi saya di Brebes adalah makan asem langsung dari pohonnya. Jadi kebetulan, di daerah rumah ada pohon asam dipinggir kali mati (kalinya udah nggak berair), setiap pulang sekolah sama teman-teman kalau main ya dideket pohon asem ini. Hal pertama yang dilakukan adalah, mencari asam yang jatuh terus dikupas dan menghisapnya seperti permen. Makanya saya suka sekali ketika bertemu dengan permen asam :) (untung yah saya nggak diculik setan pohon asem, mungkin kalau diculik saya udah membuat pesta asam didalamnya, haaaa...)

Hobi saya yang agak nyeleneh lagi adalah ngumpulin kertas undangan bareng sepupu. Ini dimulai dari ketika dirumah menerima undangan dari tetangga yang kertasnya berkilat dan wangi, "hmm... harumm *berasa iklan kopi" haha... Nah, sejak hari itu saya mebuat kesepakan dengan sepupu, MENCARI UNDANGAN. Setiap pulang sekolah, sekarang hobi saya adalah keliling kampung dan mencari kertas undangan yang telah dibuang pemiliknya, lumayan. Lumayan banyak koleksi saya waktu itu, dari yang wangi sampai yang apek tetep saya simpen. Sampai ada orang bilang, "itu undangan siapa? bagiin sana" dengan polos dijawab "iya pak" dan langsung kabur dan berhenti seketika mencari kertas undangannya. ini seriusan, hobi yang paling aneh yang pernah gw punya. Mungkin moto saya waktu adalah "save our earth atau jangan buang sampah Undangan sembarangan" haaa..

Kehidupan di Brebes membuat saya lebih mengenal tentang desa dan kegiatannya, karena keluarga ayah adalah petani, pagi, cabai dan bawang (tidak untuk tebu walaupun disana banyak pohon tebu). Kejadian heroik pernah menimpa saya dan hampir mengantarkan nyawa. Hari itu saya ikut ibu kesawah karena hari libur, ketika pulang saya melihat kobaran api dikebun tebu. Saya bingung harus lewat mana, Ibupun demikian (dia lupa jalan alternatif karena terlalu lama di Cirebon). Tanpa aba-aba saya lari masuk ke kobaran api (jadi kalau disawah itukan selalu ada jalan setapak kecil, nah untungnya jalannya itu masih kelihatan sama mata saya dan api tidak saling bersambar antar petak karena nggak ada angin) akhirnya saya lari terus untuk menerobos dan mau tidak mau ibu saya mengejar tingkah bodoh saya (tidak tau kalau nanti bisa terbakar dan harus say good bye efeknya). Dan akhirnya pas besok disekolah teman sekelas komentar, "Bun nonton film tadi malam? aktornya luka dipipi, dan sama kaya luka bakar lo. Lo kebakar kenapa?" buru-buru sampai rumah memeluk kaca. Ingatan yang cukup edan buat saya mengenai kisah ini, berasa ingin saya jitak masa kecil saya. haaa... 

Sepupu saya adalah teman saya, dan mayoritas dari mereka (bukan mayoritas lagi, semua malah) adalah perempuan, yang laki-laki hanya saya dan kakak saya. Berbanding terbalik dengan sepupu yang di Cirebon, mereka rata-rata laki-laki, hanya beberapa gelintir yang perempuan. Nah, efek dari mereka perempuan adalah saya terpaksa menyaksikan mereka bermain. Salah satu permainan mereka adalah masak memasak. Nah, saya bingung. Kok disana ada kompor, penggorengan, sudit, dkk tapi kecil-kecil semua? "Bisakah alat-alat itu digunakan seperti yang besar?" tanpa kompromi saya ambil nasi, sayur dan lauk yang ada dimeja, dan saya meminta mereka agar memanaskan masakan tersebut dengan peralatan mereka. Anehnya mereka nurut dan melalukannya (mungkin takut saya nangis yah, haaa..) dan setelah selesai makanan itu mereka berikan kesaya dan langsung saya makan. Tau rasanya? tetap dingin makanannya. haaa.... *dasar yah anak ingusan ...

Kakek saya punya banyak kerbau waktu saya kecil, dan terkadang dibawa pulang kerumah dan dipatok dihalaman rumah kalau ada masalah dikandang. Nenek saya adalah yang paling repot sama kerbau, karena nenek adalah BIDANnya kerbau-kerbau ini kalau sedang melahirkan. Hobi saya adalah membakar jari diatas lampu cemplik. Lampu cemplik adalah membuat lampu dari api yang memanfaatkan kaleng bekas ditambah sumbu atau jarit (bahan baju). Hal ini dilakukan karena listrik belum masuk desa kami (bayangkan kalau terbakar) makanya ketika ada teman bertanya "nonton tv nggak" langsung saya diamkan tak menjawab. Kalau mau nonton harus pergi kerumah tetangga dulu dan harus jalan kaki. Kakek saya selalu melarang saya terhadap hobi yang satu ini alasan dia adalah, "Nanti kerbau bisa takut sama kamu". Tapi tau apa yang terjadi? ketika sedang berjalan ke warung? Se-ekor kambing bandot justru mengejar-ngejar saya dan nyeruduk (bukan kerbaunya). Jadi kesimpulan saya adalah, bermain api membuat kerbau takut tapi membuat bandot berani sama saya. hahaaa... Hobi ini sempat vakum setelah beberapa helai rambut saya habis terbakar oleh api (ini kejadiannya lagi belajar loh, bukan lagi mainan. hehee..)

Arh,... tiba-tiba saya saya rindu sama ayah dan kakek (ibu) saya ...



Bersambung .....

*gambar dari google image.




No comments:

Post a Comment

Monggo komennya tak enteni loh :)